Menikah itu nasib atau takdir?

December 7, 2015

Sebelum membahas apakah menikah itu nasib atau takdir, kita harus tahu dulu perbedaan antara nasib dan takdir. Jadi bisakah kamu menjawab apa itu nasib? Dan apa itu takdir? Bisakah kamu membedakan dua hal ini?

Jika kita lihat menurut kamus besar Bahasa Indonesia kbbi.co.id ada kesamaan antara nasib dan takdir.
nasib sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang.
takdir : ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan.

Menurut saya sendiri ada perbedaan antara nasib dan takdir.
nasib : sesuatu yang bisa kita tentukan sendiri, bisa kita pilih dan bisa kita rubah.
Contohnya : pendidikan, profesi/pekerjaan, gaji/keuangan, tempat tinggal, gaya hidup, lingkungan dan pasangan hidup.
takdir : sesuatu yang tidak bisa kita tentukan sendiri, tidak bisa kita pilih dan tidak bisa kita rubah.
Contohnya : kapan dan dimana kita dilahirkan (kecuali orang yang memprogram tanggal kelahiran), siapa orang tua dan keluarga kita, menjadi laki-laki atau perempuan saat kita dilahirkan, kita mau lahir di urutan nomer keberapa dan kapan kita meninggal (walaupun gaya hidup juga mempengaruhi faktor kematian seseorang).

Menikah itu nasib, mencintai itu takdir Sujiwo Tedjo

Kalau begitu menikah itu termasuk nasib atau takdir? Sesuatu yang bisa kita pilih atau tidak? Menurut salah satu budayawan Indonesia, Sujiwo Tejo, beliau menuturkan bahwa menikah itu nasib, sedangkan mencintai itu takdir.  Sependapatkah kamu dengan opini beliau? Mencintai bisa jadi bagian dari takdir karena kita tidak bisa memaksakan perasaan kita pada seseorang.

Let’s think deeper, baik kita sadari atau tidak, baik kita mau mengakui atau tidak, tentu saja kita mencintai orang lain karena sebab-sebab tertentu. Karena cinta itu tidak buta, cinta itu melihat. Kita melihat orang yang kita cintai. Kita melihat sesuatu hal yang kita pandang dari orang tersebut sebagai kelebihannya sehingga kita tertarik, suka dan cinta. Awal kita tertarik dengan seseorang bisa karena beberapa faktor yaitu tertarik fisiknya, kepribadiannya, karakternya, sisi religious/spiritualnya, kepandaiannya, profesinya, finansial, kesamaan atau perbedaan hobi/kewarganegaraan/kepercayaan/suku/ras, cara dia memperlakukan diri kita dan bisa juga karena tidak ada pilihan yang lain 😀

[pullquote]A relationship is something that requires work and effort from both people. The idea of love being guided by fate is a romantic idea that has little to do with reality.[/pullquote]Nah, jika suatu saat penyebab itu hilang, bisa jadi rasa cinta itu juga hilang. Karena itu orang yang saling mencintai membuat komitmen untuk terus bersama dalam pernikahan. Ketika berkomitmen inilah proses dari penentuan nasib. Kita menentukan nasib tentang pasangan hidup kita. Kita bisa memilih untuk tetap berkomitmen bahkan ketika penyebab rasa cinta itu sudah memudar atau kita memilih untuk berkomitmen selama pasangan kita tetap memiliki penyebab-penyebab kita mencintai dirinya. 

Dalam budaya barat, saya temukan bahwa pernikahan adalah sebuah pilihan. Banyak sekali teman-teman saya dari negara barat memilih untuk tidak menikah. They believe that marriage is a choice, it’s a free will not a fate.

[pullquote]Love is sacrifice, but real love will never ask you to sacrifice the love you have for yourself. ~ Tony Gaskins[/pullquote]Pemikiran bahwa pernikahan adalah takdir bisa membawa masalah tersendiri. Contohnya seorang suami berselingkuh atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga kepada sang istri, lalu sang istri diam menerima begitu saja karena dia berpikir bahwa pernikahannya dengan sang suami adalah takdir. Sesuatu yang mutlak harus diterima bagaimanapun kondisinya. Namun sebenarnya hal itu bisa dia rubah.

Bagaimana menurut pendapat kamu, apakah menikah itu takdir? Atau menikah itu nasib? Share opini kamu di kolom komentar ya 🙂

Esther Ariesta-Rantanen

Hai, saya Esther! Dengan membangun blog & bisnis online, saya memiliki kebebasan waktu untuk melakukan hal-hal yang saya sukai & menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang yang saya cintai. Lewat blog ini, saya berbagi tips & pengalaman saya tentang blogging, bisnis online, personal development, relationships & traveling. Saat ini saya tinggal di Finlandia bersama suami tercinta.


Esther Ariesta-Rantanen

  • Menikah itu ibadah, haiyah, jawaban gue mainstream banget 😀

  • Menikah itu cita-citaku pas masa TK mbak kata ibuku, haha.

  • Menikah itu pembayaran hutang piutang hahaha, kenapa ada orang yg sampai akhir hayatnya belum menikah? karena hutangnya belum jatuh tempo. alias pemberi hutang atau pengutang masih di alam lain LOL

    • Jadi ingat sama pegadaian nih ^^ Thanks sudah mampir boss!

  • Menikah itu…hmmm buatku menikah menjadi sarana untuk mendewasakan diri, mengenal dan hadir ditengah-tengah keluarga orang lain serta ikut menjadi bagian dari diri orang lain. Paling penting adalah menikah merupakan anugerah dari Tuhan

  • Menurut saya pernikahan itu nasib. Karena kita bisa memilih untuk melakukannya atau tidak. Dengan siapa kita dipertemukan dan jatuh cinta itu Takdir. Selanjutnya perjalanan pernikahan adalah nasib.. because in marriage we get what we put into..

error: The content is protected !!