10 + 1 Dampak Negatif Perceraian Orang Tua yang Belum Diketahui Semua Orang

May 23, 2020 | Keluarga | 0 comments

Pandemi yang memaksa kita semua harus dirumah saja, rupanya menimbulkan satu masalah baru yang muncul di masyarakat. Seperti yang saya baca di laporan UN Women yang menyatakan bahwa kekerasan dalam rumah tangga meningkat. Khabar serupa juga saya dapatkan dari YLE, bahwa perceraian di Helsinki, Finlandia naik 30% pada awal bulan April.

Kenyataan ini membuat saya concern, karena saya memiliki pengalaman pilu sebagai seorang anak dari orang tua yang bercerai. 

Melihat data KDRT dan perceraian meningkat tentu saja membuat saya gundah dan berpikir, kenapa dengan adanya isolasi ini, KDRT dan perceraian meningkat? Apakah ketidakcocokan memang sudah ada dari dulu, tetapi baru saja terasa karena “terpaksa” bertemu dengan suami setiap hari?

Bertahan dalam sebuah pernikahan yang penuh pertengkaran tidak akan membawa kebahagiaan. Namun, mempertahankan sebuah ikatan pernikahan dengan alasan hanya karena anak, tidak baik juga untuk kesehatan mental diri sendiri. Jika harus bercerai, apa dampak buruknya bagi anak?

Pelajaran berharga inilah yang ingin saya bagikan disini. Orang tua saya bercerai. Saya juga berdiskusi dengan psikolog dan anak-anak lain yang orang tuanya juga bercerai. Ini dia dampak buruknya bagi anak.

Anak bisa trauma sepanjang hidupnya.

Psikolog saya mengatakan bahwa masalah-masalah orang dewasa yang timbul itu awalnya dari trauma masa kecil. Terutama, jika orang tuanya bercerai. 

Anak merasa malu dengan perceraian orang tuanya.

Biasanya anak tersebut tidak akan mengatakannya secara langsung kalau dia malu, tetapi justru dia tidak ingin membahas tentang perceraian orang tuanya itu karena merasa malu.

Sebaik-baiknya menutupi pertengkaran, tetap saja anak bisa merasakan pergumulan orang tua.

Mengutip apa yang dikatakan seorang psikoterapis, Timothy Wibowo yang menceritakan sebuah cerita sebagai gambaran situasi ini.

Misalnya ada seorang bos yang baru saja marah-marah ke karyawannya di ruang meeting. Lalu, kamu masuk ke ruang meeting tersebut untuk mengantarkan surat. Semua orang di ruang meeting itu diam, tidak ada yang berbicara sama sekali, tetapi kamu bisa merasakan ada yang tidak beres di ruang meeting itu.

Begitu juga dengan anak-anak, mereka bisa merasakan jika kedua orang tuanya sedang memiliki masalah, apalagi jika orang tuanya sampai bercerai.

Krisis kepercayaan pada diri sendiri.

Karena orang tuanya bercerai, seorang anak melihat kehidupannya tidak sama dengan keluarga yang lain pada umumnya. Itulah yang membuatnya merasa seperti ada yang salah dengan dirinya. 

Mudah untuk jatuh cinta pada orang yang tidak tepat.

Haus akan kasih sayang dari kedua orang tuanya bisa membuat seorang anak mudah jatuh cinta atau menerima cinta dari orang lain yang tidak sesuai dengan kriteria. Dia menerimanya hanya karena kebutuhan untuk memenuhi tangki cintanya yang kosong.

Liku-liku kehidupan cintanya berantakan.

Tidak ada role model tentang bagaimana orang yang saling mencintai itu seharusnya, membuat kisah cinta anak-anak ini menjadi sulit untuk dijalani. Ada yang sulit untuk berkomitmen, ada yang mudah dimanfaatkan, dan ada  pula yang patah hati berkali-kali.

Ketika dewasa, anak tersebut bisa depresi.

Depresi datangnya perlahan bersamaan dengan emosi negatif lainnya yang datang sepanjang hidupnya. Namun, trauma dari perceraian orang tua ini bisa menjadi tonggak awalnya emosi negatif bermuara dan berkembang.

Merasa bersalah.

Ada juga seorang anak yang merasa bersalah akan perceraian orang tuanya. Entah kenapa, tapi itu juga bisa dirasakan olehnya. 

Merasa tidak berharga.

Orang tua yang memilih untuk bercerai seolah tidak mengutamakan keutuhan rumah tangga dan kebahagiaan keluarga, termasuk kebahagiaan anaknya. Disitulah muncul rasa tidak berharga, karena orang tua yang memilih bercerai sepertinya tidak mengindahkan perasaan sang anak.

Tidak bisa mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan.

Diam bukan berarti setuju. Diam juga bukan berarti suka. Diam itu karena memendam rasa kecewa, marah, dan benci. Namun, karena tidak berani untuk mengungkapkan, emosi negatif itu dipendam.

Anak menjadi pesimis.

Luka batin karena perceraian orang tua menimbulkan trauma yang mengakibatkan anak tersebut bisa menjadi pesimis dalam memandang kehidupan.

Banyak sekali dampak negatif yang dirasakan oleh anak-anak karena perceraian orang tuanya. Terkadang, baik orang tua maupun anak itu sendiri tidak memahami akan dampak buruk ini.

Perceraian selalu ada dampak buruknya ke anak. Seorang psikoterapis, M. Gary Neuman menyarankan bahwa anak-anak yang orang tuanya bercerai harus melakukan terapi untuk membantu menghilangkan trauma dan emosi negatif yang ditimbulkan karena perceraian orang tuanya.

Tekanan yang dihadapi anak-anak ini sangat besar. Masyarakat masih menganggap tabu untuk membicarakan perceraian orang tua. Ada yang berpikir bahwa perceraian itu juga untuk kebaikan sang anak dan seorang anak tidak diberikan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya tentang perceraian orang tuanya.

Apakah orang tuamu juga bercerai? Bagaimana dampak negatifnya pada diri kamu selama ini? 

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ABOUT ME

Hai Sister, selamat datang di blog saya!
Blog ini saya tujukan untuk perempuan kuat seperti kamu yang ingin selalu belajar, bertumbuh, dan ingin menjadi versi terbaik dirimu. Baca lebih lanjut tentang saya di sini. Selamat membaca!

CONNECT

Pin It on Pinterest

Share This