7 Alasan Kenapa Saya Memilih Pria Bule Sebagai Suami

Oct 28, 2018 | Married | 15 comments

Ada beberapa hal yang membuat saya lebih nyaman menikah dengan pria barat atau pria bule. Salah satunya karena melihat kultur di Indonesia yang memposisikan pria sebagai satu-satunya leader atau kepala keluarga. Karena itu saya ingin berbagi pengalaman saya tentang 7 alasan kenapa saya memilih pria asing atau pria bule sebagai suami. Dalam ulasan saya ini tentu saja terbatas pada pengalaman saya yang menikah dengan pria Finlandia. Berikut ulasan saya.

1. Wanita itu sejajar dengan pria.

Kami berdua sama-sama bisa menjadi kepala keluarga. Kadang suami yang memimpin, kadang saya yang memimpin, dan bisa juga kami bersama-sama memimpin. Kedudukan kami berdua sejajar. Suami bukan satu-satunya leader atau kepala keluarga.

Ketika kami berdiskusi tentang berbagai hal, pendapat saya sama pentingnya dengan pendapat suami.

Sebagai seorang istri, saya tidak harus mengikuti semua hal yang di lakukan suami. Saya pernah ditanya oleh seorang teman,”jadi kamu sekarang agamanya ikut suami kamu ya Esther?”, nah jawaban untuk pertanyaan itu adalah NO, saya tidak harus mengikuti agama suami atau pilihan politik suami.

Kami memang menikah dan menjadi suami istri tetapi kami masing-masing adalah seorang pribadi yang memiliki kebebasan untuk memilih hal-hal yang bersifat individual.

Saat ini saya tinggal di Finlandia, negara ini masuk di urutan ke 3 sebagai negara yang memiliki kesetaraan gender menurut Global Gender Gap Report 2017 World Economic Forum (sedangkan Indonesia masuk di urutan ke 84). Di Finlandia, seorang wanita bisa memilih profesi apapun yang dia inginkan. Semua pekerjaan yang dilakukan pria, wanita juga bisa melakukannya. Seorang wanita bisa jadi presiden atau jadi sopir bus kalau dia mau.

Wanita di Finlandia mendapatkan tunjangan kesehatan gratis, untuk pendidikan juga gratis, dari sekolah dasar sampai kuliah di Universitas. Bahkan untuk ibu hamil yang tidak memiliki pekerjaan, ada program pemerintah yang memberikan tunjangan khusus berupa uang dan juga paket yang berisi kebutuhan anak yang baru lahir.

Untuk urusan politik, wanita juga harus andil memberikan suara di dalam sistem pemerintahan. Untuk anggota parlemen harus di isi dengan jumlah wanita’nya sekitar 40%.  Bahkan di Finlandia sudah ada Undang Undang Kesetaraan yang mengatur dan mengawasi persamaan hak antara pria dan wanita.

2. Wanita tidak harus bisa memasak.

Yup, tidak ada keharusan bagi saya untuk bisa memasak atau wajib berada di dapur untuk memasak. Suami bisa juga memasak masakan sehari-hari dan mengambil alih tugas di dapur. Urusan dapur bukan 100% urusan seorang wanita. Seperti poin nomer 1, kadang kami memasak bersama-sama atau bisa juga hanya saya atau suami yang memasak. Seorang laki-laki tidak anti di dapur.

3. Diberi kebebasan.

Saya tidak perlu minta izin jika saya mau beli barang-barang yang saya inginkan dengan uang pribadi saya. Yang saya maksudkan izin disini seperti kalimat ini,”Honey, bolehkan saya beli barang ini?”. Minta izin itu berarti menunggu izin, diperbolehkan atau tidak sama suami.

Kalau suami saya memberikan kebebasan pada saya untuk menggunakan uang saya pribadi. Jadi suami saya sudah memberikan lampu hijau bagaimana saya harus menggunakan uang saya. Tidak perlu pakai izin setiap kali saya mau membelanjakan uang saya.

Untuk hal lain misalnya saya mau ikut kegiatan apapun atau mau potong rambut model apapun ya boleh-boleh saja. Saya sendiri lebih suka diberi kebebasan karena saya sudah dewasa dan bisa mempertanggung jawabkan apapun yang saya perbuat, jadi tentu saja saya merasa layak untuk diberi kepercayaan dan kebebasan.

4. Romantis.

Suami saya tidak segan untuk mengatakan I love you, memberikan bunga atau hadiah kejutan saat hari-hari spesial. Memang tidak semua pria asing itu romantis ya. Apa yang saya utarakan ini hanya sebatas pengalaman saya. Saya termasuk wanita yang beruntung mendapatkan suami yang romantis. Siapa sih yang enggak suka pria romantis? 😉

Tetapi apa yang saya dapatkan sebanding dengan perjuangan saya sewaktu saya masing single. Silahkan baca di Cerita Cintaku. Di artikel tersebut saya bercerita bagaimana perjalanan jatuh bangun saya dalam urusan romansa hingga bertemu dengan suami tercinta.

5. Pembagian pekerjaan rumah yang adil.

Urusan bersih-bersih rumah bukan hanya pekerjaan perempuan tetapi juga laki-laki. Suami saya bisa mengganti seprai atau berbelanja di supermarket. Tidak ada batasan misalnya hanya saya yang harus  belanja sayuran di pasar tradisional. Suami saya bisa melakukan hal-hal tersebut. Intinya, pekerjaan rumah tangga kami kerjakan berdua.

6. Seks konsensual.

Seks konsensual berarti melakukan hubungan seks karena kedua belah pihak sama-sama mau bukan karena dipaksa atau terpaksa.

Walaupun sudah menikah bukan berarti bahwa sebagai istri saya harus siap sedia 24 jam untuk melakukan hubungan seks dengan suami. Hubungan seks antara suami istri hanya bisa dilakukan ketika kami berdua mau melakukannya. Tidak ada paksaan dan tidak boleh ada salah satu pihak yang merasa terpaksa.

Kalau yang saya sering dengar, wanita itu harus selalu siap melayani seks untuk suami walaupun lagi capek, ngantuk atau sedang tidak mood. Tidak peduli bagaimana kondisi sang istri pokoknya harus mau melakukannya. Tapi untuk kami tidak berlaku demikian, suami tetap menghormati jika saya sedang tidak ingin berhubungan seks.

Berbeda dengan berita yang sering saya dengar bahwa pria bule atau pria barat itu suka seks, tetapi kenyataan yang saya dapati pria bule itu sangat menghormati wanita untuk urusan seks. Tidak ada paksaan, bahkan setelah menikah sekalipun.

7.  Suami dan istri bertanggung jawab atas keuangan keluarga.

Untuk hal mencari uang bukan 100% tugas suami, melainkan saya juga ikut bertanggung jawab. Semua pengeluaran rumah tangga kami bicarakan dan kami lakukan pembagian. Sebagai istri, saya juga harus ikut membayar pengeluaran rumah tangga dan pengeluaran untuk diri saya sendiri.

Setelah menikah, saya tidak bisa berhenti untuk berkarir, berbisnis dan melanjutkan studi. Karena sebagai seorang istri saya tetap seorang pribadi yang memiliki impian, goals dan hobi yang harus tetap saya lakukan. Bersamaan dengan itu saya juga membangun misi dan visi kami berdua dalam sebuah ikatan pernikahan.

Saya tidak setuju bahwa wanita diciptakan dari salah satu bagian dari tubuh pria dan harus menjadi nomer dua di dalam sebuah pernikahan. Saya percaya bahwa seorang wanita memiliki kecerdasan dan kemampuan yang sama dengan laki-laki.

Bagaimana dengan pengalaman pernikahan kamu sendiri? Apakah ada pengalaman yang sama dengan yang saya alami? Share di kolom komentar ya.

Esther Ariesta-Rantanen

Esther Ariesta-Rantanen

Author

Esther is a vegan and strives to live an eco-friendly lifestyle.

15 Comments

  1. Ruziana

    Suami saya orang indonesia tulen..tp kok sangat mirip kisah kita.

    Dari semua poin itu mirip banget.
    saya tidak ngurus rumah sendirian.
    Suami nyuci, ngantar setrikaan ke laundry dan jemput.
    cuci kendaraan..beresin halaman rumah.
    urusan masak ga pernah ribet
    saya beli lauk masak..klu ga dia lapar duluan masak sendiri

    Saya masak dan beres rumah.
    Urusan anak berdua..saya antar skul dia jemput.

    Penghasilan saya ga pernah diusik.
    malah ATM gaji dia diserahkan ke saya

    Saya mau aktifitas apa ga pernah dilarang
    cuma saya yg kadang hrs sadar diri tuk ga terlalu bablas supaya ttp ada waktu tuk anak.

    Tuk urusan sex jg sama

    Cuma agak beda..dia ga romantis hahaha

    Ya mungkin kebetulan ya mba
    saya beruntung punya suami yg ga nyusahin saya hehehe

    Mmg masih banyak pasutri yang bikin gemes saat baca keluhan mrk ttg kondisi rumah tangga yg kadang memperlakukan istri spt pembantu.
    bahkan ada yg jd korban KDRT

    Reply
    • Esther Ariesta-Rantanen

      Senangnya punya suami yang bisa di ajak kerja sama. Thank you for sharing your story ya mbak Ruziana.
      Saya juga prihatin loh kalau dengar cerita istri dipaksa untuk melakukan hubungan suami istri setiap hari, tidak peduli bagaimana kondisi sang istri. Dengan sharing seperti ini mudah-mudahan bisa kasih contoh dan inspirasi bahwa ada kok laki-laki yang bisa diajak kerja sama, menghargai wanita dan tidak menomor dua kan istri.

      Reply
    • imeldasutarno

      Hanya ingin bilang: semua yang dialami mbak Ruziana sama persis seperti diriku yg bersuamikan orang Yogya tulen 🙂

      Reply
  2. Swastikha

    Menyenangkan sekali jika menemukan pasangan yang saling mengerti dan mau berbagi tugas, mba

    Reply
    • Esther Ariesta-Rantanen

      Thank you. Sebetulnya lebih ke budaya orang Finlandia sih mbak, karena ada kesetaraan gender.

      Reply
  3. Bara Anggara

    kalau point2 begitu cowo2 Indo juga banyak kok.. aku pun sama istri begitu.. cuma mungkin romantisnya aja kali ya yg udah mulai berkurang ahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

    Reply
    • Esther Ariesta-Rantanen

      Mudah-mudahan semakin banyak pria Indonesia yang sadar akan hal ini dan bisa memperlakukan seorang wanita atau istri sejajar dengan dirinya. Seperti mas Bara bisa jadi contoh suami yang baik.

      Reply
    • Perempuan Tagar Tegar (P#T)

      Semoga tetap langgeng dan selalu melindungi istri, yaitu perempuan yang harus selalu dilindungi dan bukan disakiti mas Bara. Romantisme memang di budaya Asia / Timur memang malu dan merasa agak janggal, kecuali Asia Timur yang tak segan memberi sisi ‘kawaii’-nya. Itu pun tidak masalah.

      Salam P#T dan Pria Tagar Tegar, masbro!

      Reply
  4. Efi Fitriyyah

    Hai Esther, salam kenal. Wah, seneng ya, para wanita di Finlandia dapet beasiswa sekolah dan diperhatikan banget buat para bumilnya. It’s so lucky to be you

    Reply
    • Esther Ariesta-Rantanen

      Salam kenal Efi. Thanks for your sweet words!
      In my opinion, wanita di Indonesia harus lebih banyak yang masuk ke partai politik agar bisa ngasih suara dan perubahan supaya pemerintah bisa kasih pendidikan gratis dari sekolah dasar sampai universitas. Karena pendidikan itu modal dasar agar lebih banyak sumber daya manusia yang berkualitas, termasuk mencetak lebih banyak wanita-wanita Indonesia yang cerdas, skillful dan berpendidikan tinggi.

      Reply
  5. Emma Rasyidi

    Well…,, saya belum menikah. Terlalu keukeuh pengen punya suami bule. Bukan apa2, tak hanya di dunia. Dia juga untuk akhirat. Seorang bule muslim yang mencintai saya dan saya juga mencintainya. Ketemu bule muslim, itu yang agak sulit.

    Reply
  6. Fira kahar

    Waah dari ceritamu. … . banyak kesamaannya dengan ceritaku dalam hal, pekerjaan rumah, keuangan, pendidikan dan sex walau suamiku bukan seorang bule tapi indonesian tulen.

    Urusan rumah. .. tanpa di perintah suamiku sudah mandikan anak setiap pagi.

    Sering juga jemur pakaian, nyapu dan ngepel. Itu klo asisten rumah tangga kami lg mudik.

    kadang kala disaat aku lagi suka leyeh2, taunya dia sudah masak kesukaan keluarga. Masakannya juga enak.

    Tapi aku sadar diri, secara suamiku sibuk, banyak sekali urusan kerjaan dan sosial yang dilakukannya. Karena itu suami selalu siapkan asisten rumah tangga.

    Hal Keuangan,. . aku merdeka banget, suamiku malah gak pernah tau brapa penghasilanku, dan dikemanakan uangnya. Tapi aku memang orangnya gak terlalu suka ngamburin uang tanpa jelas kebutuhannya. Jadi klo uangku sudah terkumpul biasanya kugunakan pergi umroh, atau traveling sama suami dan keluarga.

    Kalau di rumah, Taunya suami, makanan mesti selalu ada, ank2 sekolah tempat terbaik, serta kebutuhan keluarga lainnya alhamdulillah terpenuhi,… itu semua uangnya dari suami…..

    Pendidikan dan karir….. wah suamiku mensuport banget jika aku mau maju dlm hal ini,… tinggal akunya yang gak siap untuk capek dan berpisah dengan keluarga.
    Sekarang suamiku sedang proses penyelesaian doktornya, do’ain yaaa….

    Sex…. suamiku sangat menghormatiku, dia selalu menciptakan suasana senyaman mungkin untukku agar tercipta suasana suka sama suka,,,,, aku juga sangat memahami kebutuhan sex suamiku.. . Alhamdulillah akupun bahagia banget punya suami yang sangat menyayangi, menghormati dan mempethatikan kebutuhan keluarga….

    Salam kenal dariku
    FIRA KAHAR

    Reply
  7. mazariegos

    beruntungnya mbak punya suami yang mau bantuin beres2 rumah.

    Reply
  8. Olivermae

    Waah banyak ternyata ya suami yang sudah bisa membuat kaum istri bahagia hehe. Suami saya juga jawa dan mirip2 kisah mba esther dan mbak2 lain yang berbagi kisah disini.

    Daan sama juga dong kalau suami saya juga gak bisa romantis haha. Mesti saya nya yang giat memberitahu kalo lagi pengen diromantis-in atau dikasi surprise yang akhirnya gak jadi rasa surprise deh.

    Semoga semua yang meninggalkan komentar disini berbahagia dengan keluarga yaa..

    Reply
  9. Ratu

    Aaaaaaaa ceritanya mirip bgt kaya suamiku
    Suamiku org Turki dan skrg sy tinggal di Turki
    Dr awal kenal sampe skrg nikah emang gada yang beda sih,
    Pernah sy lg bete bgt ditinggalin di pinggir jalan ps dateng lg gataunya bawa bunga dan blg “this is for my swetty wife”
    Menghargai bgt sekecil apapun perhatian yang kita kasih yaa wlpn cuma kaya beresin rumah, bikinin kopi udh seneng bgt.
    Mertua jg sangat2 menghargai hal sekecil apapun yg kita kasih.

    Reply

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Archives

error: The content is protected !!

Pin It on Pinterest

Share This