Ada beberapa hal yang membuat saya lebih nyaman menikah dengan pria barat atau pria bule. Salah satunya karena melihat kultur di Indonesia yang memposisikan pria sebagai satu-satunya leader atau kepala keluarga. Karena itu saya ingin berbagi pengalaman saya tentang 7 alasan kenapa saya memilih pria asing atau pria bule sebagai suami. Dalam ulasan saya ini tentu saja terbatas pada pengalaman saya yang menikah dengan pria Finlandia. Berikut ulasan saya.

1. Wanita itu sejajar dengan pria.

Kami berdua sama-sama bisa menjadi kepala keluarga. Kadang suami yang memimpin, kadang saya yang memimpin, dan bisa juga kami bersama-sama memimpin. Kedudukan kami berdua sejajar. Suami bukan satu-satunya leader atau kepala keluarga.

Ketika kami berdiskusi tentang berbagai hal, pendapat saya sama pentingnya dengan pendapat suami.

Sebagai seorang istri, saya tidak harus mengikuti semua hal yang di lakukan suami. Saya pernah ditanya oleh seorang teman,”jadi kamu sekarang agamanya ikut suami kamu ya Esther?”, nah jawaban untuk pertanyaan itu adalah NO, saya tidak harus mengikuti agama suami atau pilihan politik suami.

Kami memang menikah dan menjadi suami istri tetapi kami masing-masing adalah seorang pribadi yang memiliki kebebasan untuk memilih hal-hal yang bersifat individual.

Saat ini saya tinggal di Finlandia, negara ini masuk di urutan ke 3 sebagai negara yang memiliki kesetaraan gender menurut Global Gender Gap Report 2017 World Economic Forum (sedangkan Indonesia masuk di urutan ke 84). Di Finlandia, seorang wanita bisa memilih profesi apapun yang dia inginkan. Semua pekerjaan yang dilakukan pria, wanita juga bisa melakukannya. Seorang wanita bisa jadi presiden atau jadi sopir bus kalau dia mau.

Wanita di Finlandia mendapatkan tunjangan kesehatan gratis, untuk pendidikan juga gratis, dari sekolah dasar sampai kuliah di Universitas. Bahkan untuk ibu hamil yang tidak memiliki pekerjaan, ada program pemerintah yang memberikan tunjangan khusus berupa uang dan juga paket yang berisi kebutuhan anak yang baru lahir.

Untuk urusan politik, wanita juga harus andil memberikan suara di dalam sistem pemerintahan. Untuk anggota parlemen harus di isi dengan jumlah wanita’nya sekitar 40%.  Bahkan di Finlandia sudah ada Undang Undang Kesetaraan yang mengatur dan mengawasi persamaan hak antara pria dan wanita.

2. Wanita tidak harus bisa memasak.

Yup, tidak ada keharusan bagi saya untuk bisa memasak atau wajib berada di dapur untuk memasak. Suami bisa juga memasak masakan sehari-hari dan mengambil alih tugas di dapur. Urusan dapur bukan 100% urusan seorang wanita. Seperti poin nomer 1, kadang kami memasak bersama-sama atau bisa juga hanya saya atau suami yang memasak. Seorang laki-laki tidak anti di dapur.

3. Diberi kebebasan.

Saya tidak perlu minta izin jika saya mau beli barang-barang yang saya inginkan dengan uang pribadi saya. Yang saya maksudkan izin disini seperti kalimat ini,”Honey, bolehkan saya beli barang ini?”. Minta izin itu berarti menunggu izin, diperbolehkan atau tidak sama suami.

Kalau suami saya memberikan kebebasan pada saya untuk menggunakan uang saya pribadi. Jadi suami saya sudah memberikan lampu hijau bagaimana saya harus menggunakan uang saya. Tidak perlu pakai izin setiap kali saya mau membelanjakan uang saya.

Untuk hal lain misalnya saya mau ikut kegiatan apapun atau mau potong rambut model apapun ya boleh-boleh saja. Saya sendiri lebih suka diberi kebebasan karena saya sudah dewasa dan bisa mempertanggung jawabkan apapun yang saya perbuat, jadi tentu saja saya merasa layak untuk diberi kepercayaan dan kebebasan.

4. Romantis.

Suami saya tidak segan untuk mengatakan I love you, memberikan bunga atau hadiah kejutan saat hari-hari spesial. Memang tidak semua pria asing itu romantis ya. Apa yang saya utarakan ini hanya sebatas pengalaman saya. Saya termasuk wanita yang beruntung mendapatkan suami yang romantis. Siapa sih yang enggak suka pria romantis? 😉

Tetapi apa yang saya dapatkan sebanding dengan perjuangan saya sewaktu saya masing single. Silahkan baca di Cerita Cintaku. Di artikel tersebut saya bercerita bagaimana perjalanan jatuh bangun saya dalam urusan romansa hingga bertemu dengan suami tercinta.

5. Pembagian pekerjaan rumah yang adil.

Urusan bersih-bersih rumah bukan hanya pekerjaan perempuan tetapi juga laki-laki. Suami saya bisa mengganti seprai atau berbelanja di supermarket. Tidak ada batasan misalnya hanya saya yang harus  belanja sayuran di pasar tradisional. Suami saya bisa melakukan hal-hal tersebut. Intinya, pekerjaan rumah tangga kami kerjakan berdua.

6. Seks konsensual.

Seks konsensual berarti melakukan hubungan seks karena kedua belah pihak sama-sama mau bukan karena dipaksa atau terpaksa.

Walaupun sudah menikah bukan berarti bahwa sebagai istri saya harus siap sedia 24 jam untuk melakukan hubungan seks dengan suami. Hubungan seks antara suami istri hanya bisa dilakukan ketika kami berdua mau melakukannya. Tidak ada paksaan dan tidak boleh ada salah satu pihak yang merasa terpaksa.

Kalau yang saya sering dengar, wanita itu harus selalu siap melayani seks untuk suami walaupun lagi capek, ngantuk atau sedang tidak mood. Tidak peduli bagaimana kondisi sang istri pokoknya harus mau melakukannya. Tapi untuk kami tidak berlaku demikian, suami tetap menghormati jika saya sedang tidak ingin berhubungan seks.

Berbeda dengan berita yang sering saya dengar bahwa pria bule atau pria barat itu suka seks, tetapi kenyataan yang saya dapati pria bule itu sangat menghormati wanita untuk urusan seks. Tidak ada paksaan, bahkan setelah menikah sekalipun.

7.  Suami dan istri bertanggung jawab atas keuangan keluarga.

Untuk hal mencari uang bukan 100% tugas suami, melainkan saya juga ikut bertanggung jawab. Semua pengeluaran rumah tangga kami bicarakan dan kami lakukan pembagian. Sebagai istri, saya juga harus ikut membayar pengeluaran rumah tangga dan pengeluaran untuk diri saya sendiri.

Setelah menikah, saya tidak bisa berhenti untuk berkarir, berbisnis dan melanjutkan studi. Karena sebagai seorang istri saya tetap seorang pribadi yang memiliki impian, goals dan hobi yang harus tetap saya lakukan. Bersamaan dengan itu saya juga membangun misi dan visi kami berdua dalam sebuah ikatan pernikahan.

Saya tidak setuju bahwa wanita diciptakan dari salah satu bagian dari tubuh pria dan harus menjadi nomer dua di dalam sebuah pernikahan. Saya percaya bahwa seorang wanita memiliki kecerdasan dan kemampuan yang sama dengan laki-laki.

Bagaimana dengan pengalaman pernikahan kamu sendiri? Apakah ada pengalaman yang sama dengan yang saya alami? Share di kolom komentar ya.